
Semakin lama saya berkarya, semakin banyak pertimbangan, bahkan hanya untuk menarik sebuah garis, apakah ini bentuk kebijaksanaan atau sebuah kebimbangan? apakah keraguan yang muncul merupakan meluapnya gagasan atau kekosongan ide semata? apakah semua pertanyaan dalam pikiran perlu dikeluarkan agar menuntun pada jawaban? jika ada jawaban atas salah satu pertanyaan di atas, maka ini adalah perjalanan saya yang penuh tanya
Orang tidak mengenal profesi arsitek seperti profesi dokter, sepanjang hidupnya mungkin sering dengar ada yang pernah mengantar adiknya, orang tuanya atau kakek – neneknya berobat ke dokter, tapi jarang dengar ada yang berkonsultasi ke arsitek, hal ini sangat lumrah karena semua orang punya tubuh yang perlu dijaga kesehatannya tapi tidak semua orang punya rumah untuk direnovasi, :p
Karena tidak semua orang punya kesempatan untuk berkonsultasi dengan arsitek, maka seringkali orang kebingungan ketika mau berkonsultasi, di bawah ini adalah contoh kebingungan yang wajar dan hampir selalu terjadi pada saya


Dari potongan percakapan di atas, pengalaman saya bertambah, banyak bertambah.
Karena, dari awal percakapan yang bermula dari proyek untuk membuat gambar 3 dimensi shelter mobil bergeser menjadi sesuatu yang lain. Ini seperti seekor harimau lapar yang datang ke restoran Perancis, menggeram pelan ke pelayan dan disajikan semangkuk salad buah, padahal yang harimau inginkan tentu saja steak daging has dalam, dengan jagung dan wortel segar.
Kanopi Mobil atau Shelter Pengunjung?
Setelah percakapan via whatsapp dan telepon, proyek tersebut berubah menjadi sebuah proyek desain kanopi untuk parkiran mobil, referensi desain pun mulai dikumpulkan untuk sebuah desain kanopi mobil di tepi pantai, tapi pertemuan tatap muka langsung dengan klienlah, yang menunjukkan bahwa yang dibutuhkan adalah sebuah benda yang lain lagi, sebuah proyek area tunggu penumpang kapal laut ke kepulauan seribu.
Dari proyek gambar 3D, ke desain kanopi parkiran mobil, ke shelter marina. Tempat 800 pengunjung dengan koper rimowa hingga penduduk pulau dan belanjaan sayur dan daging menunggu kapal di bawah teriknya matahari.
It’s a little bit of a stretch dont you think?
Mendengar langsung dari bos operator kapal bahwa kondisi area dermaga marina yang apa adanya membuat saya tersadar bahwa proyek ini lebih besar dari percakapan awal di whatsapp. jauh lebih besar.
Bayangkan ketika teman anda bilang dia sedang nongkrong di sebuah tempat dekat rumah anda, small talk yang mudah terlontar adalah,”..mumpung dekat, mampir dong ke rumah..”, terdengar harmless kan? teman anda pun meng-iya-kan dan anda menunggu dengan santai sambil menyesap es kopi
Yang anda tidak tahu dan teman anda tidak bilang adalah, dia sedang bawa pacarnya, ibu & bapak pacarnya, adik & kakak pacarnya. Rumah mungil anda pun tiba-tiba penuh sesak, mulai dari teras, ruang keluarga, kamar tidur sampai toilet. Semua berawal dari asumsi anda
Pun proyek ini, taklimat awal, kondisi eksisting dan solusi yang dibutuhkan jauh panggang dari api. Yang disebut di awal dan yang sebetulnya dibutuhkan sangat berbeda, pun secara fungsi dan secara anggaran, sekitar 15 kali lebih besar.


Dari sini lah proses identifikasi masalah dan pencarian desain dimulai, diskusi dengan pengelola kawasan, diskusi dengan operator kapal, pengamatan kondisi di lapangan, wawancara langsung dengan pengguna dan mendengarkan rintihan site yang samar terhempas hembusan angin, deburan ombak dan pekikan peluit tukang parkir.
Marina Ancol Yang Organik dan Informal
Di area dengan luas hampir 1,4 hektar, ada beberapa badan usaha besar yang mempunyai kepentingan, Jaya sebagai pemilik dan pengelola lahan, Sea breeze sebagai operator kapal dan syah bandar sebagai otoritas yang mengatur operasi kapal seputar dermaga marina. Dilihat dari sudut pandang orang awam, ketiga badan ini walaupun secara birokrasi dan S.O.P selalu bekerja sama dan berkordinasi, tapi secara geografis dan fisik mereka seolah bekerja sendiri-sendiri dan beroperasi secara organik.
Kantor Syah bandar dan otoritas pelabuhan (KSOP) menempati area di ujung dermaga, lengkap dengan kompleks kantin dan warungnya sendiri, operator kapal Sea Breeze berada tepat di tengah dermaga 15, 16 dan 17, seolah tak mau kalah dengan KSOP, kompleks kantin dan warungnya lebih besar dan lebih lengkap, sedangkan Jaya menempati lokasi paling jauh dari dermaga tapi dengan bangunan kantor yang paling besar.

Ketika survey ke sana, para pedagang dan pemilik warung terlihat berkembang secara informal, dan tidak terlihat adanya perencanaan yang terpadu antara ketiga badan usaha ini, fasilitas yang menghubungkan ketiga fasilitas utama ini sangat minim, hanya trotoar dan jalur mobil berpaving blok, sungguh seperti area tidak bertuan.
Dari kondisi ini kami juga mengusulkan untuk visioning area perencanaan yang lebih terpadu antara ketiga badan tersebut, agar area sekitarnya bisa lebih hidup dan setidaknya bisa mendekati deskripsi Marina Ancol pada wikipedia, yaitu dermaga pertama, bergaya kosmopolitan dan terlengkap di Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Marina_Ancol .
Suatu siang yang berjalan agak lambat di studio, saya menerima notifikasi whatsapp, tentang agenda diskusi di marina ancol, saya pun langsung mengusulkan diadakan secepatnya, sore itu kalau semua setuju. Singkat cerita saya pun langsung melipat laptop, beranjak dari meja dan bergegas menuju marina ancol.
Di sana saya sudah ditunggu oleh operator kapal dan langsung diajak ke ruang rapat, ruangan seluas 6 x 4 meter dengan meja panjang dikelilingi kursi, satu sisi dinding penuh dengan bingkai foto peresmian kapal dan foto seseorang dengan politisi ibu kota.
Tidak menunggu lama, saya dikenalkan dengan koh Iwan yang merupakan pemilik Sea Breeze sebagai operator kapal, ruangan full ac tersebut pun mulai berasap karena koh iwan mempersilakan peserta rapat untuk menemaninya merokok.
Koh Iwan membuka obrolan dengan keluhan yang disampaikan penumpang kapalnya, bahwa mereka harus berdiri menunggu kapal di bawah teriknya matahari jakarta utara atau mencari naungan ala kadarnya di warung atau pohon sekitar, koper dan barang mahal yang mereka bawa pun hanya dijaga ala kadarnya oleh kru kapal yang juga sibuk dengan manifes kapal.
Area penyimpanan barang bawaan tidak lebih dari sekadar trap kayu di tepi dermaga, tepat di atas laut, hanya ditopang oleh kayu dan doa para penumpang agar barang- barang tersebut tidak tercebur dan hanyut ke laut.
Koh Iwan juga mengungkapkan tentang jalur dan area tunggu calon penumpang kapal yang sangat organik dan informal kalau tidak mau disebut tidak beraturan dan berceceran, seringkali ketika 800 calon penumpang akan berangkat, mereka menunggu di area yang jauh dari titik keberangkatan, kru kapal kesulitan memanggil dan minimnya signage juga tidak membantu calon penumpang untuk mengantri secara mandiri
Perancangan Shelter yang Seperti Apa?

Tidak semua orang punya pengalaman dengan laut, tepi pantai dan kapal laut, memang kapal merupakan salah satu moda transportasi di laut, seperti halnya dengan mobil sebagai salah satu moda transportasi di darat. Salah satu hal yang membedakan kapal dan mobil adalah ukuran dan kemampuan manuvernya, ini adalah salah satu faktor yang mempengaruhi proyek ini secara langsung, yaitu dimensi.




Dengan ukuran yang jauh lebih besar dan kemampuan manuver yang memerlukan ruang lebih lebar, menjadikan sirkulasi untuk mencapai kapal menjadi lebih jauh dari sekadar mencapai parkiran mobil. Dimensi yang besar, berpengaruh terhadap luas area pengembangan yang akan direncanakan, dan akan berpengaruh langsung terhadap biaya konstruksinya.
Dengan meluasnya area pengembangan, jarak yang ditempuh pengunjung untuk mencapai perahu juga menjadi lebih jauh untuk kemudian menunggu kapal datang dan merapat. Hal ini memerlukan perhatian terhadap fasilitas pengunjung, yaitu tempat duduk. Jumlah bangku dan tata letaknya perlu disesuaikan dengan karakter pengunjung yang akan menggunakan kapal, tipikal pengunjung yang akan bepergian menggunakan speed boat dari marina ancol adalah pengunjung dengan koper, peralatan pancing dan menyelam yang mahal dan besar.
Area sirkulasi, jarak antar bangku dan area penyimpanan sementara barang bawaan pengunjung menjadi salah satu prioritas utama dalam perancangan area tunggu. Area overflow ruang tunggu juga perlu disediakan untuk menampung lonjakan calon penumpang kapal yang kadang terjadi pada waktu-waktu tertentu.
Setelah duduk di area tunggu, elemen krusial lainnya adalah naungan. hampir tidak mungkin ada orang yang mau berpanas-panasan sambil menunggu kapal yang tidak kunjung terlihat, dinding sebagai fungsi partisi dan penahan bisa dihilangkan pada proyek ini, tapi tidak demikian halnya dengan atap sebagai elemen penahan cahaya matahari.
Atap juga berperan sebagai elemen identitas pada shelter , melihat konteks atap pada bangunan sekitar area shelter yang bentuknya bermacam-macam, kami mengambil solusi untuk membuat atap yang tidak ikut berteriak dan mereduksi bentuknya dari bidang atap menjadi garis atap
elemen lain yang kehadirannya tidak bisa terelakkan pada proyek ini adalah elemen struktur, tiang-tiang yang akan berdiri di tepi dermaga lebih dari 50 meter tentu akan menarik perhatian dan tidak bisa lepas dari penyematan identitas pada shelter
Maka kami mencoba sekali dayung, dua-tiga pulau terlalui, yang pertama, memiringkan tiang struktur sebesar 5 derajat dari sumbunya, sehingga pondasi telapak yang dibuat cukup satu titik untuk dua tiang, dan mendapat naungan ekstra selebar 2 meter dari kantilever yang terbuat dari tiang tersebut, yang terakhir adalah barisan repetisi tiang miring tersebut menjadi bagian identitas shelter, tanpa perlu dibuat-buat
Semua ini bukan dilakukan hanya karena terlalu banyak waktu luang di masing-masing pihak, tapi tentu dalam rangka berbenah dan meningkatkan kondisi yang ada, kualitas pelayanan diperbaiki sambil berharap kuantitas pengunjung pun meningkat
Feedback dan evaluasi perancangan keseluruhan
Bagai sayur tanpa garam dan soto tanpa kerupuk, solusi permasalahan berbasis desain tidak akan pernah holistik tanpa dukungan lintas disiplin, dalam hal ini pihak struktur, pelaksana konstruksi dan elemen yang hilang dari perancangan ini, desain grafis lingkungan.
Pondasi setempat yang memerlukan kedalaman 90cm menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksana, bagaimana tidak, 30cm awal galian, air sudah menggenang, jadi perlu bantuan pompa untuk menguras air dan membuat pondasi. Kalikan kerepotan tersebut dengan 40 titik pondasi, obat sakit kepala sudah menjadi penghuni tetap saku sang pengawas lapangan.
Kondisi muka air yang cukup tinggi seolah tantangan level 1, mengecor plat lantai seluas 1300 m persegi juga bukan semudah membalikkan telapak tangan, mungkin lebih seperti mengenakan kostum pisang dan kemudian membalikkan telapak tangan gorilla, gorilla yang sedang puasa.
Elemen environmental design graphics (EDG) meliputi signage petunjuk arah, font nama shelter, font, simbol dan material nama ruangan, juga tidak sempat terbahas pada diskusi dengan operator, mungkin masih dianggap hanya elemen yang menghabiskan anggaran semata
Tapi kalau ada kesempatan untuk berdiskusi dengan pengelola, hal ini bisa saja menemukan titik terang, selain dapat menyulap area menjadi lebih segar, tapi juga berfungsi sebagai progres dengan indikasi penyerapan anggaran.
Perancangan arsitektur tentu tidak lengkap tanpa adanya penyesuaian lapangan dan pemotongan anggaran, pun begitu pada proyek ini, desain plafon bermotif ombak fraktal dengan material upvc pun dihilangkan, karena tenggat waktu yang sudah di depan mata.
Inkonsistensi pertemuan tiang dan plafon juga terlihat di beberapa titik, entah karena tenggat waktu yang diberikan hanya 1 bulan untuk proyek seluas 1300 meter persegi atau karena pengawas sudah terlalu pusing kepala atau kami tidak meluangkan cukup waktu untuk supervisi ke lapangan, overall kami sudah sangat bersyukur proyek ini terbangun tepat waktu, memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang dan berfungsi sebagaimana yang direncanakan.


Leave a comment